![]() |
| Ini Dik Hasna yang sedang belajar membaca |
Halo semua,
Kini, aku mau cerita tentang hal yang ku sadari beberapa hari sebelumnya
Seperti biasa, aku berangkat mengajar les privat untuk seorang anak. Namanya Hasna, usianya kalau tidak salah 5 tahun. Sekolah TK, dan masih belajar membaca. Aku mengajari privat latihan menulis dan membaca untuknya.
Mungkin dari kalian akan berpikir bahwa mengajari membaca dan menulis untuk anak-anak itu mudah. Harus ku akui, dari sisi materi memang hal ini yang paling mudah. Ngga perlu rumus, ngga perlu hafalan, yang penting hafal abjad dan bisa membaca. Akan tetapi, perlu kesabaran tinggi untuk mengajar membaca. Mengapa? Bagi kita yang sudah bisa membaca, akan lebih mudah untuk membaca kata-kata yang sederhana. Tapi, bagi mereka yang belajar, itu akan sulit. Mungkin, akan terbesit dalam pikiran kita saat mengajar, "Ih, kok ngga bisa-bisa sih,". Itu wajar, dan aku juga pernah berpikir begitu. Cuma, di saat yang sama, aku juga berpikir, "Emang dulu aku langsung bisa baca tulis? Ngga kan? Perlu belajar, kan? Itu pun sama dengan dia. Ayo, semangat buat ngajarin Hasna biar bisa," itu pikirku. Dan sampai saat ini pun, aku masih ngajar dia dan senang pas akhirnya dia bisa.
Ada satu hal menarik yang entah baru aku sadari atau memang sebenarnya Tuhan sudah ngasih petunjuk tapi aku ngga mau tahu. Kemarin, aku mengajar Hasna untuk membaca. Sebelumnya, dia sudah berhasil membaca kata dengan dua suku kata. Jadi, hari ini aku mengajarinya untuk membaca sebuah kata dengan tiga suku kata. Sebenarnya, dia sudah bisa mengeja, hanya saja, belum bisa disatukan untuk dijadikan sebuah kata. Contohnya seperti ini,
ME-LA-TI
dia sudah bisa menyebutkan M E ME - L A LA - T I TI. Tetapi, dia belum bisa mengatakan kalau kata itu adalah MELATI. Bisa dibilang, finishingnya masih perlu diajari. Kadang, lupa suku kata pertama, kadang lupa suku kata kedua, dan sebagainya. Lalu, apa yang ku lakukan?
Aku pun memintanya mengeja kembali, lalu ku tanya lagi, "Tadi apa?" untuk suku pertama, dan ketika mengeja suku kata kedua, ku juga mengulangi kata yang sama. Tujuannya untuk apa, agar dia mengingat apa yang sudah dibaca. Selain itu, saat dia sudah membaca suku kata kedua, ku juga minta untuk mengulangi suku kata yang pertama dan digabung dengan suku kata kedua, supaya dia ingat. Dengan begitu, dia tinggal membaca suku kata ketiga dan digabung lagi.
Pada awalnya, dia agak kesulitan dengan metode itu. Tetapi, dia ngga nyerah. Dia latihan lagi dan membaca lagi. Dan akhirnya, dia bisa membaca. Ku coba untuk membaca kata-kata selanjutnya, dan bisa. Aku senang akhirnya dia bisa. Dan saat bersamaan, aku terketuk.
Kemarin, dia belum bisa membaca kata dengan tiga suku kata. Hari ini dia berlatih. Berkali-kali gagal. Berkali-kali salah. Selalu ku katakan, "Ayo coba lagi," dan dia coba lagi untuk membaca. Masih belum bisa. Ku katakan lagi, "Ayo coba lagi, gapapa," dan dia coba lagi. Berkali-kali coba lagi. Hingga akhirnya bisa. Memang sebuah perjuangan.
Kadang, kita memang menginginkan sesuatu dan kita mencoba untuk meraihnya. Tetapi, tak jarang kita gagal berkali-kali. Entah karena memang faktor dari kita, atau Tuhan hanya menunda keberhasilan kita karena hanya Dia yang lebih tahu. Kegagalan yang lebih dari sekali kadang membuat kita untuk takut mencoba lagi. Karena apa? Karena takut gagal lagi.
Coba kita lihat Hasna. Dia mungkin juga lelah waktu belajar. Tapi, saat aku bilang, "Gapapa, ayo coba lagi" dan tanpa ragu, dia coba lagi. Mungkin dibenaknya, dia cuma pengen bisa baca, dan satu-satunya cara biar bisa baca adalah latihan membaca. Dia terus mencoba tanpa mempedulikan hasilnya, bisa jadi dia gagal lagi. Dan akhirnya, dia berhasil untuk membaca kata bersuku kata tiga.
Hal yang perlu kita pelajari dari Hasna memang sederhana. Tapi, justru hal sederhana itulah yang bisa menjadikan kita ke arah yang lebih baik. Mungkin, sebagian dari kita masih ada rasa takut untuk mencoba lagi karena khawatir kegagalan yang akan datang. Tapi, yakinlah, kita memang harus berani mencoba agar hal yang kita inginkan bisa tercapai. Kita ngga pernah tahu, percobaan ke berapa yang akan berhasil. Kesempatan mana yang membuat kita bisa merasakan keberhasilan. Jadi, kita memang harus terus mencoba. Lalu, bagaimana dengan ketakutan kita? Mari kita lawan bersama. Takut itu memang manusiawi, tapi jadi berani juga perlu.
Sekian kisah hari ini. Semoga bermanfaat. Dan mari berusaha mencoba! Semoga percobaan kali ini membuahkan hasil yang diinginkan. :)

Komentar
Posting Komentar