Sumber: Dokumen Pribadi
Sebelum membahas hal yang lebih lanjut, kita perlu memahami
pengertian hutan terlebih dahulu. Berdasarkan Undang-Undang tentang Kehutanan
Nomor 41 Tahun 1999, hutan adalah suatu kesatuan ekosistem berupa hamparan
lahan berisi sumber daya alam hayati yang didominasi pepohonan dalam
persekutuan alam lingkungannya yang satu dengan lainnya tidak dapat dipisahkan.
Definisi tersebut menjelaskan jika hutan didominasi oleh pepohonan, yang
selanjutnya terdapat sumber daya hayati lain sebagai satu kesatuan ekosistem.
Pepohonan dan tanaman lain inilah yang menghasilkan oksigen bagi manusia.
Proses menghasilkan oksigen ini dilakukan melalui proses
fotosintesis. Seperti yang kita tahu, tanaman dan makhluk hidup lain yang
memiliki klorofil akan mendapatkan makanannya melalui fotosintesis. Proses
fotosintesis memerlukan karbondioksida dan molekul air serta cahaya matahari
untuk bisa menghasilkan sumber energi (biasanya karbohidrat), uap air, dan
oksigen. Inilah yang membuat makhluk hidup berklorofil, termasuk pohon, untuk tetap
ada agar kualitas udara dapat terjaga.
Berdasarkan Food and Agriculture Organization atau FAO
(2020), saat ini hutan memiliki luas 31% dari daratan di bumi, lebih dari 4
miliar hektar. Namun, luasan ini menurun dibandingkan saat pra-industri sebesar
5,9 miliar hektar. Menurut informasi dari FAO yang dilansir Earth Policy
Institute oleh Adams (2012), luasan hutan dunia menurun sejak 1990 hingga 2010.
Luasan hutan yang dimaksud pada tahun 1990, 2000, dan 2010 adalah 4.168 miliar
hektar, 4.085 miliar hektar, dan 4.033 miliar hektar. Penurunan luasan hutan
ini memprihatinkan karena hutan memiliki peran penting dalam kehidupan manusia.
Seperti yang kita tahu kalau bukan hutan yang menjadi
penyumbang oksigen terbesar di bumi, melainkan fitoplankton. Fitoplankton mampu
menyediakan separuh oksigen yang ada di bumi. Sisanya, berasal dari hutan dan
tanaman-tanaman di daratan (Roach, 2004). Namun, hutan tetap dibutuhkan karena
ada beberapa alasan, antara lain sebagai berikut.
- Hutan membantu memperbaiki kualitas udara
Hutan yang terdiri dari pepohonan menyerap CO2 dari atmosfer. Hal ini dapat memperbaiki kualitas udara. Fitoplankton
memperoleh karbondioksida kebanyakan dari lautan, bukan dari atmosfer (Roach,
2004). Selain itu, penelitian Ratnaningsih dan Suhesti (2010) juga menjelaskan
jika hutan kota dapat menjadi penyerap polutan udara. Pepohonan mampu
menurunkan konsentrasi partikel padat di udara, karena pohon dapat meningkatkan
turbulensi aliran udara. Daun juga
memiliki kemampuan menangkap partikel yang dipengaruhi oleh keadaan permukaan
daun, yaitu kebasahan, kelengketan, dan bulu daun. Partikel-partikel sebagian
menempel pada permukaan daun, terutama daun yang berbulu dan memiliki permukaan
kasar. Atas dasar inilah, hutan tetap dipertahankan agar kualitas udara tidak
menurun.
- Penambahan fitoplankton memiliki dampak negatif
Walaupun fitoplankton merupakan
penyumbang oksigen terbesar di bumi, tetapi penambahan fitoplankton akan
memebri dampak negatif lainnya. Dikutip dari National Geographic, penelitian
Frouin dan tim menyatakan bahwa peningkatan jumlah fitoplankton kemungkinan
akan meningkatkan suhu bumi karena peningkatan penyerapan sinar matahari.
Akibatnya, pemanasan global akan bertambah parah.
- Hutan adalah pendingin bumi
- Ekosistem hutan berbeda dengan lautan
Ekosistem daratan akan berbeda
dengan ekosistem di lautan. Selain udara, hutan juga menjaga air, tanah, dan
kekayaan di dalamnya dari kerusakan. Untuk itu, penting bagi kita untuk tetap
menjaga hutan agar kekayaan ekosistem di dalamnya dapat terjaga.
Hutan adalah bagian bumi yang penting bagi kehidupan
manusia. Hutan juga menentukan kualitas udara di bumi. Untuk itu, perlu bagi
kita tetap menjaga hutan agar kelangsungan hidup kita terjamin. Hal-hal yang
mungkin bisa kita lakukan adalah dengan tidak membuka hutan secara sembarangan
(seperti untuk pertanian, pemukiman, dan industry) serta menggunakan produk
hasil hutan yang tersertifikasi ramah lingkungan (seperti SLVK maupun FSC)
karena proses produksinya sudah terjamin minim memberikan dampak negatif pada
lingkungan.
Oh ya, adanya tulisan ini juga dalam rangka mengikuti lomba yang diadakan oleh KBR. Saya sudah berbagi pengalaman soal perubahan iklim. Anda juga bisa berbagi dengan mengikuti lomba blog "Perubahan Iklim" yang diselenggarakan KBR (Kantor Berita Radio) dan Ibu-Ibu Doyan Nulis (IIDN). Syaratnya, bisa Anda lihat di https://m.kbr.id/nasional/05-2020/jaga_bumi_sembari_ikut_lomba_blog_perubahan_iklim_/103105.html . Selamat mencoba dan lebih perhatian dengan alam kita.
Oh ya, adanya tulisan ini juga dalam rangka mengikuti lomba yang diadakan oleh KBR. Saya sudah berbagi pengalaman soal perubahan iklim. Anda juga bisa berbagi dengan mengikuti lomba blog "Perubahan Iklim" yang diselenggarakan KBR (Kantor Berita Radio) dan Ibu-Ibu Doyan Nulis (IIDN). Syaratnya, bisa Anda lihat di https://m.kbr.id/nasional/05-2020/jaga_bumi_sembari_ikut_lomba_blog_perubahan_iklim_/103105.html . Selamat mencoba dan lebih perhatian dengan alam kita.
Sumber:
Adams, EE. 31
Agustus 2012. Forest Cover. https://www.earth-policy.org/indicators/C56/forest_2012.
Diakses pada 13 Juni 2020 pukul 20.20 WIB.
Food and
Agriculture Organization (FAO). 2020. The
State of The World’s Forests 2020. https://www.fao.org/state-of-forests/2020/en/.
Diakses pada 13 Juni 2020 pukul 21.07 WIB.
Ratnaningsih,
AT dan Suhesti, E. 2010. Peran Hutan Kota dalam Memperbaiki Kualitas Udara. Jurnal Ilmiah Pertanian. 7(2): 57 – 64.
Roach, J. 7
Juni 2004. Source of Half Earth’s Oxygen
Gets Little Credit. https://api.nationalgeographic.com/distribution/public/amp/news/2004/6/source-of-half-earth-s-oxygen-gets-little-credit.
Diakses pada 13 Juni 2020 pukul 22.07 WIB
Zimmer, K. 28
Agustus 2019. Why the Amazon Doesn’t
Really Produce 20% of the World’s Oxygen. https://api.nationalgeographic.com/distribution/public/amp/environment/2019/08/why-amazon-doesnt-produce-20-percent-worlds-oxygen.
Diakses pada 12 Juni 2020 pukul 19.35 WIB.

Komentar
Posting Komentar